Situs blog

Siapa pun di dunia

Bima Anak yang Peduli Lingkungan Sekitar

Oleh Robyatus Sholikhah

    Pagi hari yang cerah Bima dan teman – temannya bersepeda  bersama .Bima melihat tempat sampah tetangganya jatuh berserakan . Tiba – tiba  Bima berhenti mendadak “ Bima kenapa berhenti ?” tanya teman- temannya Bima menjawab “sebentar aku mau membereskan tempat sampah yang beserakan itu. Teman – teman Bima pergi untuk membantu membereskan sampah yang berserakan “Bima kenapa rumah ini kosong ” tanya salah satu temannya Bima menjawab “ karena pemilik rumahnya kerja di luar kota “jawab Bima mereka lanjut membereskan sampah yang berserakan.

      Selesai di bersihkan Bima dan teman – temannya pergi bersepeda lagi “Bima kalau orangnya pergi kenapa ada sampah di tempat sampah?”tanya salah satu temannya Bima menjawab “karena pemilik rumahnya baru pergi lagi ke luar kota tadi pagi jam lima “ kata Bima . Tiba – tiba ada pengumuman besok di adakan kerja bakti satu desa “teman – teman ayo ikut “kata Bima “oke” jawab teman – temannya Bima sambil bersepeda.

      Keesokan harinya Bima bersiap – siap untuk pergi kerja bakti dan ibu Bima menyiapkan makanan untuk orang yang kerja bakti “Bima teman – teman kamu sudah datang“ kata ayah Bima “iya ayah” jawab Bima. Ayah Bima ,Bima,dan teman – temannya pergi untuk kerja bakti . Sesampai di tujuan  ayah Bima, Bima , dan teman – temannya bertugas untuk membersihkan selokan setelah beberapa jam yang lalu Bima dan teman – temannya sudah kelelahan saat itu juga, ibu – ibu yang bertugas menyiapkan makanan dan minuman datang lalu memberikan makanan dan minuman.

      Ayah Bima, Bima, dan teman – temannya beristirahat sambil makan dan minum sejenak setelah itu mereka lanjut bekerja lagi setelah beberapa jam kemudian akhirnya selesai satu desa jadi bersih dan nyaman.

       Keesokan harinya Bima pulang sekolah dia melihat adik kelasnya membuang sampah sembarangan dan Bima mendatanginya lalu menasehatinya. Tetapi dia tidak mendengarkan dan Bima berusaha berkali kali menasehatinya dan akhirnya dia menyadari lalu mengambil sampah yang dia buang sembarangan dan di buang pada tempatnya.

        Pada hari libur Bima dan ayah ibunya pergi ke rumah nenek sesampai di rumah nenek Bima melihat halaman dan rumah nenek sangat berantakan lalu Bima memanggil ayah dan ibunya “ibu ayah ayo membersihkan halaman dan rumah nenek yang berantakan “ kata Bima, ayah menjawab “ayo tetapi gimana kalau kita bersihkan saat nenek jualan di pasar. Dan ibu menjawab “oke kalau gitu ibu siapkan alat - alat bersih bersihnya” jawab ibu, keesokan harinya nenek pergi ke pasar jam tiga. Bima, ayah, dan ibu mulai bersih bersih rumah dan halaman setelah beberapa jam akhirnya sudah bersih dan rapi saat nenek Bima pulang nenek Bima terkejut dan terharu karena melihat rumah dan halamannya sudah bersih dan rapi.

         Sebelum pulang dari rumah nenek Bima, semua berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan. Sambil makan ayah Bima tanya kepada Bima “Bagaimana perasaan kamu Bima di rumah nenek ?” Bima menjawab dengan antusias “saya sangat senang sekali ayah karena nenek sangat baik dan pekerja keras meskipun sudah tua. Jadi saya tidak mau kalah dengan nenek, saya juga akan suka mengerjakan sesuatu yang baik, contohnya membantu bersih – bersih di rumah, lingkungan rumah, rumah nenek dan di sekolah” ayah segera menjawab “kamu hebat..bagus sekali kebiasaan seperti itu nak..!”. Semua keluarga Bima tersenyum bahagia karena Bima mempunyai kebiasaan yang baik.


Diubah: Sabtu, 16 Agustus 2025, 16:23
Tagar:
 
Siapa pun di dunia
Naura Azmi Athifah
Naura Azmi Athifah - Jumat, 3 Februari 2023, 09:12

Peduli Sungai

Oleh Naura Azmi Athifah

  Abdi, siswa sebuah sekolah dasar di Desa Rejoso. Ia gemar bersepeda bersama teman-temannya. Saat hari libur, Abdi dan teman-temannya selalu bersepeda. Begitu pula hari ini, Abdi bersepeda bersama Bayu dan Haqi. Rute kali ini tak seperti biasanya yang berkeliling kampung. Mereka bersepeda di sepanjang jalan di sisi sungai.

   Cuaca yang panas membuat Abdi dan teman-temannya merasa lelah. Mereka akhirnya beristirahat di bawah pohon yang besar yang rindang. Mereka menikmati bekal yang dibawa dari rumah dan bergurau. Saat mereka sedang asik bergurau, Abdi tak sengaja melihat sungai yang sangat kotor. Penuh sampah plastik seperti botol minum bekas, bungkus jajan, kemasan sabun cuci, sampah popok dan sebagainya.

“Wah... kebiasaan ini”, Abdi bergumam.

Haqi yang kebetulan berada di sampingnya pun menoleh pada Abdi dan bertanya,

“Kebiasaan apa Di?”

“Kamu lihat itu!” Abdi menunjuk ke salah satu area sungai. Tepatnya di dekat jembatan pintu air.

Haqi terkejut melihat tumpukan sampah dan berkata ‘’Wah, payah. Banyak sekali tumpukan sampah. Padahal sampah di sungai itu ini bisa menyebabkan banjir saat musim hujan nanti.‘’

“Iya Qi , ini juga bisa berdampak buruk bagi lingkungan sekitar’’ kata Bayu.

“Ayo kita beritahu ke pak RT tentang ini’’ sahut abdi.

“Ayok ayok’’ mereka langsung bersepakat dan hendak bersiap dengan sepeda.

“Sebentar teman-teman, nanti apa yang kita katakan pada Pak RT? Sebelum ke rumah Pak RT kita harus punya ide dulu untuk disampaikan.” Kata Abdi yang langsung menghentikan langkah teman-temannya.

“Benar juga. Masak sih kita ke Pak RT hanya untuk bilang banyak sampah di sungai tanpa memberi saran. Pak RT kan setiap hari melewati jalanan di sepanjang aliran sungai, pasti Pak RT tahu semua itu.” Kata bayu.

“Emm bagaimana kalau kita usul agar diadakan kerja bakti saja’’ Usul Abdi.

“Percuma kalau hanya kerja bakti.” Sahut Haqi. “Kalau kerja bakti saja, nanti setelah kerja bakti bisa-bisa sungai kembali penuh sampah.” Tambahnya.

“Apa kita tambah usulannya agar ditempel tulisan pengingat kesadaran masyarakat.” Ucap Abdi menambahkan.

“Betul sekali. Seperti kata-kata BUANG SAMPAH SEMBARANGAN = MONYET atau poster yang berupa gambar seperti yang pernah kita lihat di dekat jembatan Sembayat itu.” tambah Bayu.

Mereka bertiga berpandangan dan isyarat mata mengekspresikan kata sepakat “Kamu yang ngomong ke Pak RT ya Abdi!” kata Haqi yang lansung dibalas dengan anggukan kepala Abdi.

Abdi dan temannya bergegas menuju ke rumah pak RT. Sesampainya di rumah pak RT, Abdi memencet bel di tembok depan rumah pak RT.

‘’Ding dong, ding dong’’ Bel berbunyi.

 Tak lama kemudian terlihat seorang perempuan yang hendak membukakan pintu. Ternyata perempuan itu adalah Bu RT.                                                                                                                          

‘’Assalamualaikum,” sapa Abdi.

“Waalaikumsalam,” Jawab Bu RT. “Ada apa ini? Panas-panas gini ada apa datang ke sini, Abdi, Haqi, bayu?’’ tanya Bu RT.

“Kami mau cari Pak RT.” Ujar Abdi. “Pak RT ada Bu?” tambahnya.

“Pak RT ada. Tapi ... ada apa ya kalian cari Pak RT?” Bu RT menyelidik.

“Kami ingin memberitahu kepada pak RT tentang sungai yang kotor.” Ujar Abdi.

“Baiklah tunggu sebentar akan saya saya panggilkan Pak RT.” Bu RT bergegas ke belakang memanggil pak RT.

Pak RT datang menghampiri Abdi, Haqi, dan Bayu yang sedang menunggu di teras rumah.

“ Wah ada Abdi, Haqi, dan Bayu. Ada apa kalian ke sini? Cari saya berarti ada yang penting nih ...” Tanya pak RT kepada Abdi dan teman-temannya.

Abdi pun menceritakan kepada Pak RT tentang sungai yang kotor yang dilihatnya saat bersepeda tadi.

“Ternyata belum banyak yang sadar terhadap kebersihan lingkungan sekitar.” Kata pak RT.

“Iya pak, maka dari itu saya melapor dan ingin meminta bantuan para warga untuk membersihkan sungai itu” Abdi menjelaskan.

Pak RT setuju dengan pendapat Abdi dan berkata “Ya sudah, kampung kita kan punya kelompok pemuda cinta lingkungan. Hari Minggu besok akan saya adakan kerja bakti dengan kelompok cinta lingkungan dan para warga yang mau ikut untuk membersihkan sungai yang kotor itu”

“Baik Pak RT. Boleh ditambah tidak pak? Selain kerja bakti kita pasang papan pengumuman agar tidak ada lagi yang membuang sampah di sungai.” Kata Abdi. “Terima kasih pak RT, insyaallah besok saya dan teman-teman boleh ikut ya pak?” Ujar Abdi menambahkan.

“Boleh. Tentu saja boleh ikut. Tapi kalian harus hati-hati karena kalian masih anak-anak. Terima kasih ya karena kalian telah peduli terhadap lingkungan dan berani menyampaikan ide yang bagus ke bapak.” Jawab Pak RT yang dibalas anggukan Abdi dan teman-temannya.

Pak RT memberi pengumuman kepada warga bahwa hari Minggu akan dilaksanakan kerja bakti untuk membersihkan sungai yang kotor itu.

Hari Minggu tepatnya, terlihat para warga sangat antusias membersihkan sungai. Abdi, Haqi, dan Bayu juga membantu membersihkan pinggiran sungai dan memasang poster bertuliskan “BUANG SAMPAH SEMBARANGAN=MONYET” Siang pun berlalu, berkat antusias para warga sungai pun kembali bersih seperti semula. Abdi dan teman-temannya sangat senang melihat sungai ini kembali bersih dari sampah.


Diubah: Sabtu, 16 Agustus 2025, 16:23
Tagar:
 
Siapa pun di dunia

Ita Pahlawan Cilik Pecinta Lingkungan 

Oleh: Ayana Izzatul Mahya

Ada seorang anak kecil yang bernama Ita. Dia masih berumur lima tahun, dan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Dia sering bertanya-tanya tentang apapun yang tidak ia ketahui kepada Ibunya, terutama terkait lingkungan sekitarnya. Pada suatu hari saat Ita dan Ibunya sedang berada di taman Ita melihat ada dua tong besar. Ita penasaran dengan tong yang ia lihat, lalu Ita pun mengintip isi dari salah satu tong tersebut. Setelah ia buka tutup tong tersebut ia terkejut karena banyak lalat berterbangan dan bau yang menyengat. “Uh, bau apa ini!?” kata Ita, lalu Ita pun berlari ke Ibunya dan menggandeng tangannya lalu mengajaknya ke tempat tong tersebut berada. “Ada apa nak?” tanya Ibu “Mama, kenapa tong ini bau?” “Ooh, itu namanya tempat sampah”. “Apa itu sampah?” Lalu Ibu menjelaskan “Sampah itu sisa yang sudah tidak berguna dan juga sudah tidak terpakai, nak. Misalnya Ita habis makan cemilan, terus bungkusnya Ita makan nggak?” “Nggak ma” Lalu Ita pun bertanya beberapa hal lainnya tentang sampah kepada Ibunya. “Ooh, jadi begitu ya ma?” “Iya nak, jadi kalau Ita melihat ada orang yang membuang sampah selain di tempat sampah seperti di sungai dan selokan Ita ingatkan ya nak?” “Oke ma!”

Suatu hari saat Ita bersepeda bersama teman-temannya ia melihat ada sekelompok anak laki-laki yang usianya sekitar anak SMA sedang membuang sampah di sungai. Ita dan teman-temannya pun menghentikan kayuh sepedanya, “Eh, itu mereka lagi ngapain?” Tanya salah satu teman Ita yang bernama Amel sambil menunjuk para remaja tersebut “Eh, bukannya itu sampah ya? Kok dibuang ke sungai? Nanti kan sungainya kotor” Kata Titi. Lalu Ita pun teringat kata ibunya “jadi kalau Ita melihat ada orang yang membuang sampah selain di tempat sampah seperti di sungai dan selokan Ita ingatkan ya nak?”. Akhirnya Ita pun mengajak teman-temannya untuk menghentikan perbuatan anak-anak remaja itu. Ita, Amel dan Titi meninggalkan sepeda mereka di pinggir jalan dan menuju anak-anak tadi. “Hei! Kalau buang sampah jangan di sungai! Nanti banjir loh...!” Kata Ita. Salah satu anak tersebut menjawab “Heleh, kalian masih kecil aja loh nggak usah ikut campur sama kami!” Titi berkata “Lah daripada kalian, sudah besar kok masih belum mengerti kalau membuang sampah sembarangan itu dilarang?” Salah satu dari mereka lagi-lagi menjawab “Huh, terserah kami lah mau ngapain. Lagi pula sungai ini luas kok dek, nggak bakalan banjir...” Amel bertanya “Kalau kotornya?” “Hissss...!!! Nggak bakalan kotor, kan udah dimasukkan ke dalam plastik besar. Dah, udah udah! Kalian anak-anak kecil pergi sana syuh! Syuh! (Mengusir) jangan mengganggu kami! Atau kalian ku dorong ke sungai!!!” “Atau kami laporin ke polisi!?” Ita dan teman-temannya dengan kompak mengancam anak-anak remaja, namun anak-anak remaja tersebut masih bisa menjawab “Emangnya bisa anak kecil seperti kalian lapor ke polisi ha? Ini ada kayu besar (menunjuk ke salah satu kayu yang berada di sebelahnya) kalo kalian terus menghalangi kami.. akan kupukul kalian pakai kayu itu dan kudorong kalian ke sungai!!!!!” “Aaaaaaaaaa......!!!!!!” Ita dan teman-temannya pun kabur karena takut di sakiti oleh anak-anak tadi, akhirnya mereka pulang ke rumahnya dan menceritakan kejadian ini ke orang tuanya masing-masing.

 Beberapa saat setelah kejadian tersebut, desa mereka tiba-tiba terendam banjir yang membuat penduduknya diharuskan untuk mengungsi. Di tempat pengungsian Ita melihat siaran berita, anak-anak remaja yang membuang sampah beberapa saat lalu diancam pidana penjara paling lama tiga bulan. “Akhirnya anak-anak itu kapok juga! Tapi yang kena dampaknya kok orang sekampung?” Ita bertanya sendiri. Setelah beberapa waktu lama akhirnya desa mereka sudah surut dari banjir, Ita sangat bahagia dapat kembali ke rumahnya “Hore...!!! Akhirnya pulang juga” teriak Ita saat pintu rumah mereka akan dibuka. Saat masuk ke rumahnya Ita terkejut karena kondisi rumahnya sangat kacau. “Loh! Rumah yang dinanti-nanti kok jadi begini!?” lalu ayahnya mengajak Ita membereskan rumah mereka “Ita, bantu mama papa beres-beres rumah yuk!” Ita pun mengikuti ajakan itu dan membantu orang tuanya membereskan rumah. Setelah rumah mereka beres, ada ajakan dari kepala desa untuk bergotong royong membersihkan sungai yang saat itu banjir untuk mencegah terjadinya banjir lagi. Ita pun semangat mengikuti kegiatan tersebut. Saat kegiatan dilaksanakan Ita bertemu dengan Amel “Amel! Dimana Titi?” Amel menjawab “Titi sedang terkena penyakit kulit, gara-gara banjir kemarin” “Wah! Kok bisa? Setelah ini aku jenguk Titi ya!”. Tak lama Ita pun meminta izin ke Ibunya untuk menjenguk temannya itu. “Mama, nanti kalau sudah selesai bersih-bersihnya boleh nggak aku ke rumahnya Titi? Soalnya Titi lagi kena penyakit kulit ma” “Boleh, sayang” “Ma, selain penyakit kulit apa lagi penyakit yang disebabkan oleh banjir” “Ada demam berdarah, diare, demam banjir, masih banyak lagi nak” “Wah, ternyata sampah lumayan merepotkan ya! Gara-gara sampah jadi banjir, gara-gara banjir jadi harus mengungsi, harus beres-beres rumah, dan banyak penyakit” “Makannya lingkungan itu perlu dijaga dengan baik agar tidak merugikan kita, salah satu cara adalah membuang sampah di tempatnya” “Tapi kan ma, kalau cuma dibuang berarti masih ada di bumi dong. Gimana caranya biar sampah jadi nggak ada?” “Ooh, sampah yang di tempat sampah akan diurus oleh tukang sampah. Sedangkan ada juga sebagian sampah yang bisa dimanfaatkan kembali seperti dijadikan kerajinan lalu dijual, sampah yang Mama jelaskan saat di taman kan ada dua, untuk sampah organik bisa dijadikan kompos atau pupuk” “Oooh, begitu ya ma... aku sekarang jadi lebih mengerti. Terima kasih ya Mama, karena Mama aku jadi lebih paham tentang sampah dan juga bikin aku jadi peduli lingkungan”. Akhirnya Ita menjadi anak yang cinta terhadap lingkungan. Setiap ada sampah yang ia lihat tidak sesuai di tempatnya, Ita buang ke tempatnya. Setiap ada orang yang mencemari lingkungan, Ita menegur dan memperingatkannya. Setiap ada orang yang membakar sampah di tempat terbuka, Ita juga menegur dan memperingatinya. Karena pembakaran sampah terutama sampah plastik juga berdampak buruk bagi lingkungan.

Semoga kalian suka dengan cerpen yang saya buat ^_^

Diubah: Sabtu, 16 Agustus 2025, 16:24
Tagar:
 
Siapa pun di dunia

Melului tulisan sejarah perihal Beliau dibawah ini;

Kartini, Santriwati Kesayangan Mbah Sholeh Darat

Satu keping sejarah Kartini yang belum banyak terungkap adalah hubungan dia dengan Mbah Sholeh Darat, ulama yang mempengaruhi kehidupan spiritual Kartini.

Raden Ajeng Kartini yang lahir di Mayong Jepara 21 April 1879 M bertepatan dengan 28 Rabi’ul Akhir 1297 H memang selalu menarik untuk dikaji. Ia adalah perempuan Jawa yang seakan memang sudah dewasa. Padahal dilihat dari sejarah hidupnya, ia hanyalah anak muda yang ketika menikah berusia 24 tahun dan meninggal pada usia 25 tahun (17 September 1904).

Bisa dibayangkan, dalam usianya yang 25 tahun itu ia telah menjadi inspirasi dunia. Lantas,  bagaimana Kartini mampu menerobos pintu sejarah yang demikian ketat, sehingga dirinya mampu menjadi tauladan bangsa?

Jawabnya adalah bahwa Kartini merupakan sosok perempuan yang peduli pendidikan. Hari-harinya dimanfaatkan untuk belajar, membaca, beribadah, dan berdiplomasi dengan gaya korespondensi. Itu dilakukan karena tradisi Jawa kala itu tidak membolehkan perempuan keluar jauh-jauh dari rumah. Dan Kartini membuktikan bahwa tembok Kadipaten tidak menghalanginya untuk tetap belajar.

Salah satu guru Kartini adalah KH Muhammad Sholeh bin Umar (Mbah Sholeh Darat). KH Imam Taufiq, pengampu pengajian rutin Kitab Mbah Sholeh Darat di Masjid Agung Kauman Johar Semarang, menyebutkan bahwa Kartini punya hubungan guru-murid dengan Mbah Sholeh Darat. Hal senada disampaikan Amirul Ulum, santri Mbah Maimun Zubair yang menulis buku “Kartini Nyantri”. Dalam buku itu dibuatkan bab khusus berjudul: “Islam, Agama Kartini” yang juga membahas tentang “Hadiah Tafsir Pegon untuk Kartini”. Gus Amir juga menjelaskan secara kisah pertemuan dan dialog kyai-santriwati itu.

Imron Rosyadi dalam buku “RA Kartini, Biografi Singkat 1879-1904” juga mengungkap kisah yang sama. Bahkan dalam dua buku Biografi yang ditulis khusus oleh panitia untuk memperingati Haul Mbah Sholeh Darat juga menyebutkan pertemuan dan hubungan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat. Buku biografi Mbah Sholeh Darat yang pertama ditulis Abdullah Salim pada 1982 dan disempunakan kembali edisi kedua pada 16 Juli 1983 M/5 Syawwal 1403 H. Buku ini menjelaskan pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat.

Biografi Mbah Sholeh Darat juga ditulis Gus Agus Taufiq (menyamarkan namanya dengan Abu Malikus Salih Dzahir) dan Gus Mohammad Ichwan. Buku ini juga mengungkap persinggungan Mbah Sholeh dengan Kartini. Mastuki dan M. Ishom Elseha dalam bukunya “Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Pertumbuhan Pesantren” juga menjelaskan figur dialektika Kartini dengan Mbah Sholeh Darat sebagai Kyai akhir abad 19 yang menulis dengan huruf pegon. Kisah pertemuan Kartini dan Mbah Sholeh ini ada juga ditulis oleh Wiwid Prasetyo dalam bentuk novel bertajuk “The Chronicle of Kartini: Gadis Ningrat Pengubah Wajah Wanita Jawa dan Pencetus Sekolah Wanita Pertama”. 

Jauh sebelum itu semua, surat-surat Kartini sudah terpublikasikan rapi dalam “Door Duisternis tot Licht” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ada dua buku berjudul “Brieven aan Mevrouw R.M. Abendanon-Mandri en Haar Echtgenoot Met Andere Documenten” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Surat-Surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya”.

Dalam dua surat Kartini kepada Tuan EC Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902 dan 17 Agustus 1902 secara eksplisit menyebut gurunya adalah seorang tua. Bahkan Kartini menyebut bahwa orang Jawa menulis naskah dengan menggunakan huruf Arab (dalam tradisi pesantren disebut huruf Pegon atau huruf Jawi).

“Saya sungguh gembira melihat perkembangan kesenian bangsa bumiputera… Bahagia mendapatkan segala sesuatu yang indah. Cahaya Tuhan ada dalam diri manusia, dalam apa saja, bahkan juga sesuatu yang tampaknya paling buruk… Saya berharap dengan pendidikan dapat membantu pembentukan watak, dan paling utama adalah cita-cita… Saya hendak berbicara dengan kamu tentang bangsa kami, dan bukan tentang pendidikan. Tentang hal itu nanti bukan? Di sini ada seorang orang tua, tempat saya meminta bunga yang berkembang di dalam hati. Sudah banyak yang diberikan kepada saya, sangatlah banyak lagi bunga simpanannya. Dan saya ingin lagi, senantiasa ingin lagi… Saya tidak mau lagi belajar membaca Al-Qur’an, belajar menghafal amsal dalam bahasa asing, yang tidak saya ketahui artinya. Dan boleh jadi, guru-guru saya, laki-laki dan perempuan juga tidak mengerti. Beritahu saya artinya dan saya akan mau belajar semua. Saya berdosa, kitab yang suci mulia itu terlalu suci untuk diterangkan artinya kepada kami”.

Surat yang sangat panjang itulah kata hati Kartini dalam mengungkapkan betapa dirinya mendapatkan ilmu dari orang tua dalam hal isi kandungan Al-Qur’an. Bahkan kalimat setelah itu ia menegaskan: “Tahun berganti tahun, kami namanya orang Muslim, karena kami turunan orang Muslim. Dan Kami namanya saja Muslim, lebih daripada itu tidak. Tuhan, Allah, bagi kami hanya semata-mata kata seruan. Sepatah kata, bunyi tanpa arti dan rasa. Demikian kami hidup terus, sampai tiba hari yang membawa perubahan dalam kehidupan jiwa kami. Kami telah menemukan Dia, yang tanpa disadari telah bertahun-tahun dirindukan oleh jiwa kami.”

Dalam surat lainnya kepada Tuan EC Abendanon tertanggal 17 Agustus 1902, Kartini menulis: “Selamat pagi, melalui surat ini Adik datang lagi untuk bercakap-cakap… Kami merasa senangnya, seorang tua yang telah menyerahkan kepada kami naskah-naskah lama Jawa yang kebanyakan menggunakan huruf Arab. Karena itu kini kami ingin belajar lagi membaca dan menulis huruf Arab. Sampai saat ini buku-buku Jawa itu semakin sulit sekali diperoleh lantaran ditulis dengan tangan. Hanya beberapa buah saja yang dicetak. Kami sekarang sedang membaca puisi bagus, pelajaran arif dalam bahasa yang indah. Saya ingin sekali kamu mengerti bahasa kami… Patuh karena takut! Bilakah masanya datang firman Allah yang disebut cinta itu, meresap ke dalam hati manusia yang berjuta-juta itu?… Demikianlah saya, anak yang baru berumur 12 tahun hanya seorang diri berhadapan dengan  kekuasaan musuh…  Tuhan itu besar, Tuhan itu kuasa!”

Dua surat itu sudah cukup menggambarkan siapa sosok Kartini. Kartini adalah seorang muslimah. Bahkan, KH Asrori Al Ishaqi menyebutkan bahwa Kartini adalah waliyullah (kekasih Allah). Sebagai putri keturunan raja, Kartini menguatkan dirinya dengan mengaji dan belajar agama. Dan yang menginspirasi isi agama Islam dalam Al-Qur’an bagi Kartini adalah Mbah Sholeh Darat.

Pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat bukan hanya dalam satu kali pengajian saja, sebagaimana disebutkan beberapa penulis. Ternyata Kartini selalu hadir dalam pengajian-pengajian Mbah Sholeh Darat di Demak, Kudus, dan Jepara. Tentang kapan hal itu terjadi, ada perbedaan pendapat. KH Musa Machfudh sebagaimana ditulis Abdullah Salim menyebut bahwa pertemuan Mbah Sholeh dengan Kartini pada tahun 1901 (dua tahun sebelum pernikahan Kartini). Sementara Amirul Ulum meyakini pertemuan itu sebelum 19 Februari 1892. Sebab, Kartini mulai menjalani pingitan (penjara keluarga) sejak awal 1892 (ada yang menyebutkan akhir tahun 1891).

Terlepas dari perbedaan waktu itu, Kartini dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi. Karena semangat Kartini dalam mempelajari isi Al-Qur’an, Mbah Sholeh selalu memberikan pretilan (tulisan tangan dengan satu dua lembar kertas) kepada Kartini. Dari situlah Kartini mulai belajar huruf Arab Pegon. 

Bagi Kartini, belajar Arab bukanlah sulit. Sebab ia juga dikenal sebagai wanita Jawa yang menguasai bahasa Belanda, Perancis, dan Inggris. Kartini pun menjadi santri kalong kesayangan Mbah Sholeh Darat. Kartini sangat kritis, maka tidak aneh jika di usia 12 tahun ia sendiri mengatakan sudah berani melawan penjajah.

Pada awal belajar Al-Qur’an, Kartini mengaku hampa. Sebab, ia hanya belajar mengeja dan membaca, sementara isi kandungan Al-Qur’an tidak dapat diserap. Ia mengibaratkan bahwa belajar Al-Qur’an dengan model demikian akan menjadikan orang Islam tidak mengetahui mutiara hikmah yang terkandung di dalamnya. Ketika meminta gurunya mengartikan Al-Qur’an, justeru Kartini dimarahi. 

Kartini pun gelisah. Ia berontak karena merasa belum sempurna Islamnya jika belum tahu isi Al-Qur’an. Bahasa asing seperti Belanda, Prancis, dan Inggris yang berhasil ia kuasai mendorong dirinya untuk memahami bahasa agamanya, yakni Arab. Namun, Kartini tidak menemukan guru bahasa Arab atau guru tafsir. 

Kegelisahan itu kemudian dia tulis dalam suratnya kepada Stella EH Zeehandelaar tertanggal 6 November 1899: “Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu Bahasa Arab. Di sini, orang diajari membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya”.

Begitu dahsyatnya Kartini melakukan kritik kuat terhadap pembelajaran agama di akhir abad 19 itu. Dan itu menunjukkan kuatnya minat Kartini untuk memahami isi Al-Qur’an. Dan saat itu, belum ada Tafsir Al-Qur’an yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu atau Jawa. Wajar, jika Kartini menjadi penasaran!

Dalam lanjutan suratnya, Kartini menulis: “Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hapal seluruhnya, tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya, maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya di sana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?”

Kalimat itu menyiratkan ketidakberdayaan Kartini akan bahasa Arab. Sampai-sampai dia ungkapkan keinginannya ke negeri Arab untuk belajar, dan itu tentu tidak mungkin. Bahkan, harapannya ke Belanda yang ia kuasai bahasanya saja gagal dan digantikan Agus Salim. Maka ia menanti kehadiran orang Jawa yang pernah di negeri Arab agar bisa menjelaskan isi Al-Qur’an.

Siapakah dia? Mbah Sholeh Darat lah yang mampu membuka wawasan Islam Kartini. Al-Qur’an yang demikian suci dibuka maknanya sehingga Kartini memahaminya. Kepada Mbah Sholeh Darat, Kartini belajar Tafsir Faidlur Rahman.

Tafsir Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid-Dayyan jilid satu ditulis selama sebelas bulan oleh Mbah Sholeh Darat (20 Rajab 1309 H/19 Februari 1892 sampai 19 Jumadal Ula 1310 H/9 Desember 1892 M). Jilid pertama ini berjumlah 503 halaman dengan bahasan surat al-Fatihah dan surat al-Baqarah. Kitab tafsir itu selanjutnya dicetak oleh percetakan HM Amin Singapura pada 27 Rabiul Akhir 1311 H/7 November 1893. 

Dr. M. Rikza Chamami, MSi (Dosen UIN Walisongo Semarang) 

tulisan ini dikutip dari bersatoe.com dengan penyesuian seperlunya, atas izin penulis.

Sumber: 

https://kemenag.go.id/read/kartini-santriwati-kesayangan-mbah-sholeh-darat-kvnbp

Diubah: Sabtu, 16 Agustus 2025, 16:25
 
Siapa pun di dunia

Menjadi Perhatian:

Pengadaan tablet PC di Sekolah akan dilaksanakan dalam dua tahap yakni:

  • Tahap 1 22 Agustus 2021
  • Tahap 2 10 Oktober 2021
Bagi Bapak/Ibu yang menghendaki ikut serta dalam program bisa konfirmasi kepada ibu guru kelas, 
untuk pertanyaan cara pembayaran (Tunia / Angsuran Melalui Tabungan) bisa konfirmasi dateng bu hani di 085708477771

Demikian Semoga Menjadi Manfaat Bagi Kita Semua, Disampaikan Terima Kasih.

Diubah: Rabu, 18 Agustus 2021, 19:27
 
Siapa pun di dunia

Bapak/Ibu, kami tetapkan dihati dan pikiran kami apresiasi kepada panjenengan yang luar biasa.  

Selamat menjadi bagian ekosistem pendidikan berkarakter mutu berbasis spiritual, terima kasih telah memberikan kesempatan kepada kami untuk membersamai tumbuh kemang setiap peserta didik. Semoga perjalanan panjang yang seringkali terasa singkat ini menjadi barokah dan manfaat bagi kita semua. 
Sebagai upaya bersama mencapai visi "Terwujudnya generasi muslim yang ceria, cerdas IESQ, dan sholeh", penting kiranya peran aktif stakeholder madrasah dengan menanya, memberikan umpan balik, serta komitmen untuk semakin baiknya kualitas layanan pendidikan. 

Untuk menjadi perhatian:

  • Pembelajaran masa pandemi bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran
  • Tersedia Pembelajaran Daring yang lebih diutamakan melalui portal belajar annur  
  • Tatap muka darurat (TMD) tidak wajib
  • Peserta TMD diharuskan mengikuti protokol kesehatan 3M dengan cara memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir 
  • Masker yang dimaksud adalah masker kesehatan, dua lapis lebih baik.
  • Bagi peserta didik dan atau anggota keluarganya mengalami gangguan kesehatan agar tidak mengikuti TMD

Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua. Pengumuman ini disampaikan untuk menjadi periksa.


Diubah: Kamis, 8 Juli 2021, 06:39